<$BlogRSDUrl$>

Sunday, March 27, 2005

KISMAT? 

KISMAT?
Cerita Pendek: Arisel Ba


Aku selalu di situ. Duduk memandang ke luar jendela dan melepaskan cahaya mata menjangkau kejauhan, kemudian hilang. Sejak aku merasai bahawa aku sebenarnya sudah tua, aku amat lazim menghabiskan waktu bersendirian. Selain dirumah itu aku hanya ditemani isteriku yang juga sudah tua.

Kedutan dan kerutan di wajahku kini kelihatan amat menonjol sekali. Kulit wajahku semakin mengendor, rambutku seluruhnya memutih bak kapas keperak-perakan, mengisyaratkan usiaku semakin renta. Sinar mataku masih tetap garang dan tajam. Dan aku segera tahu, barisan pepohon, perbukitan atau apa saja yang berada di kejauhan itu adalah barisan rakan-rakanku yang akan menangisi kematianku.

" Ada berita tentang orang yang mati dalam kolom akhbar hari ini. Bila pula giliranku," gumam hatiku perlahan. Agak nafas tertahan. Angin dan hujan masih bermain di luar jendela. Juga malaikat maut mengintai untuk menerpa ke arahku. Detik jam tetap berlompatan dan setia memutar angka demi angka. Dan kadangkala tanpa aku terasa, nostalgia itu mula menghanyutkan jasadku.

"Pasti mereka tidak lama lagi akan melalui depan mataku. Akan melewati depan rumahku. Seperti hari-hari sebelumnya. Dan mereka mengusung keranda hala ke tanah perkuburan yang diberi nama Desa Damai." Angin dan hujan masih bermain di luar jendela. Aku mulai terbayang kembali seluruh kenangan. Pengusung keranda itu kini menghampiri rumahku.

"Sebentar lagi," bisikku “Mungkin”, jawabku. Kerusi rotan yang aku duduki jelas terdengar menyiut-nyiut lantai. "Sebentar lagi mereka akan melewati depan jendela rumahku,“ kata hatiku.

Aku meneruskan membaca buku Paz Octavio, berjodol Das Labyrinth der Einsamkeit, Olten, diterbitkan pada tahun 1970. Aku memang menjadikan Paz Octavio sebagai idola kepengaranganku. Antara lain, pernah aku catat dalam buku peringatan yang lusoh dan masih ada kesan-kesan terbakar, antara lain:

Octavio Paz dilahirkan pada tahun 1914 di Mexico dari keturunan Indian dan Sepanyol. Ayah Paz adalah seorang advokat dan pengikut gerakan revolusi Landreform Zapata .Pada usia 17 tahun Paz sudah membaca Eliot, Breton, Novalis, Nietzsche danMarx. Ketika berusia 19 tahun dia menulis puisinya yang pertama. Dalam usia 22 tahun dia meninggalkan kuliah pada fakulti filsafat di Mexico-City, kemudian diapergi ke Yucatan mendirikan sebuah sekolah menengah pertama untuk anak-anakburuh dan petani.

Di Yucatan inilah, dia sibuk dengan fantasinya yang berakar dari budaya masa lampau suku Maya. Dalam tahun 1937 dia mengadakan lawatan pada konggres sastera, di mana di Sepanyol sendiri sedang pecah perang saudara. Dari sini dia mulai mengenali para tokoh sasterawan antara lain, Rafael Alberti, Luis Cernuda, Cesar Vallejo, Pablo Neruda dan Miguel Hernandez. Kematian Hernandez di penjara membuat Paz sangat terpukul.

Pada tahun 1938 Paz kembali ke Mexico lewat Paris dan berkenalan dengan sasterawan berasal dari Cuba, Carpentier. Dia mulai aktif dalam dunia politik dan sastera dan mendirikan media puisi bernama:“Taller“. Paz berujar;“Puisi adalah sebuah kesibukan kita yang terpenting, kita ingin merealisasikan, bila kita sendiri mampu bangkit.“ Diamengusung karya-karya dari Blake, Rimbaud, Baudelaire dan Nerval. Pazbersama sasterawan kenamaan Villaurutia mendirikan media budaya:“El HijoProdigo“.

Tahun 1943 Paz mendapat biasiswa ke San Francisco dan mulai berkenalan dengan puisi model Anglo-Saxon. Antara tahun 1940-1943 Pablo Neruda menjadi konsul Chile di Mexico. Saat itu persahabatan antara Paz dan Neruda terjadi ketidakcocokan. Kemudian Paz tahun 1945 menjadi ataci kebudayaan Mexico di Paris, di situ dia berkenalan erat dengan tokoh surealis Peranchis, Andre Breton. Paz juga memperdalam pemikiraneksistensialisme dari Sartre serta Heidegger. Tahun 1950 lahirlah karya kumpulan esei: „Labirin Kesunyian“.

Bahkan ketika Paz bertugas sebagai duta besar Mexico di India, dia sempat muncul di Jepun dan aktif dengan Haiku. Salah satu puisi Paz yang terkenal berjudul „Batu Mentari.“(Piedra de sol). Tahun 1969 Paz menjadi Profesor Tamu di Peranchis dan USA. Tahun 1990 Paz di anugerah Hadiah Novel untuk sastera. Di usia 84 tahun, tepatnya tahun 1998 dia meninggal dunia untuk selama-lamanya.

“ Ah, bila pula giliran aku. Ya Allah Ya Rabbi!, panjangkan usiaku untuk meneruskan kepengaranganku ini…..”, sambil merapatkan kedua pelupuk mataku.
Tiba-tiba bacaan pada buku peringatannya itu terganggu oleh derap sepatu sekumpulan manusia. Entah dari arah mana datangnya derap sepatu itu. Mula-mula terdengar dari jauh. Kemudian mendekat, dan mendekat hampir melalui halaman rumahnya. Aku mengamati dengan tekun sambil membetulkan kacamataku yang juga semakin renta itu.

Waktu barisan pengusung keranda itu tepat berada di depan rumahku, mereka berhenti. Berdiri mematung di situ. Salah seorang di antara mereka, membalikkan wajah dan beradu pandang denganku. Angin dan hujan masih bermain di luar jendela. Aku gemetar hebat. Dengan perasaan getir dan mual, aku menelan ludahku sendiri.

"Ah, sebentar lagi…" bisikku sambil menarik nafas panjang. Tak lama kemudian, para pengusung keranda kembali berjalan. Berangkat meninggalkan halaman rumahku.

"Tunggu!" aku dengan suara keras menyeru. Seperti ada tarikan besi berani yang menyedut tubuhku, aku kuatkan tenaga untuk berdiri dari kerusi rotan yang sering bergoyang itu. Walau aku tidak berdaya, sekuat tenaga aku berjalan melewati pintu, mendekati para pengusung keranda yang kembali mematung di halaman rumahku.

"Maaf, aku ingin bertanya, siapakah yang mati hari ini?" Barisan itu bungkam. Semua mata mereka terkedip-kedip Langit kelam. Hitam. Hitam yang berat. Dan segera menghamburkan helai-helai kemurungan.

"Siapakah kiranya di dalam keranda itu?, “ tanyaku. Angin dan hujan bermain di luar jendela. Pengusung itu tetap diam. Aku membelai rambutku yang basah kerana peluh ke belakang.

"Siapakah di dalam keranda itu…?" Angin dan hujan bermain di luar jendela. Usungan diturunkan. Semua pengusung berdiri tegak mematung.

Aku cuba menolak sewaktu mereka mahu membuka penutup keranda. Tapi terlambat. Aku kembali menolak ketika mereka mulai membuka kafan. Tapi terlambat. Aku kini memandanginya. Sebuah wajah beku dan lebam. Sebuah nama. Sebuah nasib yang usai. Aku tidak tahu, atau tidak perlu tahu, saat mana barisan pengusung keranda itu telah berlalu. Yang terdengar kemudian hanyalah suaraku yang lirih, "Setiap yang berasal dari tanah tetap akan kembali ke tanah."

Pagi ini, ulang tahunku yang ke-72 tahun, dan aku mengatakan pada isteriku,
Aku merasakan kepuasan yang sangat kerana berada di kampung halaman sendiri dan bertemu dengan alam semulajadi. Sebuah perasaan jouissance! Nikmat yang luar biasa! Pembicaraan di antara aku dengan isteriku yang juga semakin tua renta itu tidak sebanyak tulisan Shahnon Ahmad, A.Samad Said, Muhamad Haji Salleh, Abdullah Hussein, Arena Wati atau S.Othman Kelantan. Akan tetapi, ahhh!!! Intertekstualiti itu ada diantara kita berdua, sayang. Dan alam semulajadi ini masih setia menyaksikan kita berdua.

Dan malam itu, di bawah sinaran bintang yang kemungkinan besar bintangnya pun sudah
tidak ada lagi di jagat raya, menjadi saksi bahawa kata-kata yang keluar dari benakku tengah bertautan dan menghasilkan janin yang akan membesar menjadi sebuah karya yang besar, nantinya. Apakah itu akan diakui ataukah sebagai karya haram. Itu terserah apa kata pembaca di pasaran buku. Yang penting aku merakamnya dalam sebuah dokumen bernama Memori dan menorehkannya diatas Winword Microsoft.

Dan hingga malam itu, aku masih terus menulis…..

Isteriku membaca beberapa tulisanku tentang dirinya; bahwa aku berada dalam satu selimut denganya. Dan akhirnya benarlah bahawa ia memang menghabiskan malam dalam satu selimut denganku. Kismat! Kombinasi tanda-tanda visual dan verbal bersatu dalam satu atap bernama Ciwidey. Segala unsur bersatu di malam itu. Aku yang susah tidur, Isteriku yang menemaniku dan unggas-unggas belukar di luar rumah yang kadangkala memEnaikan bulu kudupku dengan rasa guk-guk-nya kerap membuatku terperanjat.

“Ketika kau membaca separuh impianku tentang tidur dibawah satu selimut denganmu. Aku menyedari bahwa aku telah menuliskan tanda. Ini adalah sebuah unsur dasar semiotik yang diajarkan Boel, bahwa ketika tanda-tanda itu dikomunikasikan dengan mata, maka ia akan berubah anggukan dan aku mengikutimu ke dalam kamar dan disinilah kita. Di bawah satu selimut dan membicarakan tentang ketuhanan dan Allah Yang Maha Mempesona”, kataku.

“Ya. Semuanya mengandungi makna, mempunyai unsur bentuk dan makna. Penanda dan petanda. Islam dan Cinta. Allah dan Cinta. Aku dan Cinta. Isteriku dan Cinta. Untuk belajar semiotik, Boel tidak menyuruh aku untuk belajar ilmu tanda, kod dan tetekbengeknya yang berguna bagi masyarakat. Tapi ia menyuruh aku seperti Umberto Eco yang Tamasya dalam Hiperealiti”, jawabnya,

“Bahwa ruang sudah tidak lagi melebar, akan tetapi semakin minimized. Seperti iklan sebuah handphone di TV, bahwa segala yang ada dirumah, bahkan rumah itu sendiri ada dalam single click!”

“Ya. Sama real-nya dengan ‘bahwa aku menggenggam dunia.”, jawabku santai.

Lalu isteriku duduk berdekatan sekali denganku hingga nafasnya pun terasa mengena bulu mataku, “Kamu tahu, aduhai isteriku? Di dalam dunia yang di genggam atau di lipat sekalipun, masih ada dunia yang lain lagi. Bahwa dalam atom pun masih ada yang terkecil lagi. Boleh jadi aku dan isteriku di dunia yang lain lagi itu masih bercinta, padahal aku dan isteriku di dunia yang lainnya lagi belum mengenal, tapi yang lainnya lagi masih tengah tamasya atau malah sudah memiliki beberapa anak.”

Aku tertawa kecil. Setuju padanya. Bukan sekadar pasrah; tapi aku pun juga menyedari itu. “Dunia Aku-Isteriku!”, kataku setengah menjerit dengan mengepalkan tanganku ke atas sembari teringat Dunia Sufi. Jadi aku pernah merasakan sebuah realiti dimana aku bertemu isteriku saat masih kecil dulu di kampung itu. Yaa! Tak salah pula jika aku memiliki realiti dimana aku bertemu dengannya saat umurku dua puluh tiga atau mungkin di awal kepala dua.

Sungguh semangat sekali aku malam itu. Aku seolah ditemani sang wali suci. Apalagi ketika ia mengatakan bahwa yang terpenting di dunia itu adalah profesi. Kedengarannya seperti prophecy.

Malam yang mengherankan. Di dalam beg galasku yang aku gendong ke sana ke mari, ke mana saja aku berpergian, terdapat buku Marylin Ferguson yang berjudul “The Aquarian Conspiracy: Personal and Social Transformation in the 1980’s”; sebuah buku New Age yang selalu kubawa kemana aku melangkah agar aku mendalaminya dan boleh menyelesaikan penulisanku.

Tapi, malam ini, ada konspirasi lain lagi. Bagaikan kecipak gendang dan suara Nusrat Fateh Ali Khan .... “Allah hooo .... Allah hoooo”, aku tengah dihipnotis oleh seorang Taurus dengan Taurean Conspiracy-nya. Dia adalah isteriku, Selamah. Dia terus mengingatkan di malam itu bahwa jika menganggap bahwa Allah menciptakan alam ini, maka kita jangan melihat bahwa dunia diciptakan dengan pertentangan. Kerana tidak ada Tuhan wanita dan Tuhan lelaki. Satu saja. Satu! ALLAH.

Ciuman pertama dari isteriku. Simulasi basi akan sebuah impian percintaan birokrasi dari kayangan, layaknya. Kau akan tahu apakah itu. Yang penting; satu sarung pedang untuk dua bilah pedang itu artinya, satu pedang harus mengalah. Pedang siapakah? Kekaburan antara realiti dan maya akan membuat kita menemukan jawaban perlahan.

Keesukkan hari nya aku membaca kembali, kali berkali ungkapan Abu Fatima, Penasihat Kerohanian dari Institut Misykat di Jakarta melalui monitor komputer di rumahku, antara lain katanya: Kita semua pasti akan meninggal dunia, ke mana jiwa kita kemudian akan
pergi? Lazimnya bila ada orang yang meninggal dunia maka kita ucapkan `innaliLlahi wa'inna `Ilaihi raajiuun, sesungguhnya kita dari Allah dan kepada-Nya pula akan kembali. Saya yakin pada akhirnya semua manusia pasti akan kembali kepada Allah. Yang menjadi pertanyaan apakah kita kembali pada Allah pada kematian sekarang, ataukah kita harus melewati fasa-fasa kehidupan lain terlebih dahulu sebelum dinyatakan layak berada di hadirat-Nya?

Aku bungkam kembali di kerusi rotan dekat dengan jendela di rumahku.

" Ada berita tentang orang yang mati dalam kolom akhbar hari ini. Bila pula giliranku," gumam hatiku perlahan. Agak nafas tertahan. Angin dan hujan masih bermain di luar jendela. Juga malaikat maut mengintai untuk menerpa ke arahku. Detik jam tetap berlompatan dan setia memutar angka demi angka. Dan kadangkala tanpa aku terasa, nostalgia itu mula menghanyutkan jasadku.

Aku selalu berada di situ. Duduk sendirian memandang ke luar jendela. Setiap kali barisan pengusung keranda itu melalui halaman rumahku, aku tidak mahu lagi bertanya, siapakah yang mati hari ini.

Selesai
27 Mac 2005
Kuantan, Pahang

NOSTALGIK TOK GAJAH 

NOSTALGIK TOK GAJAH
Cerita Pendek Karya: Arisel Ba



Hari ini sudah hampir dua jam dia meneliti wajahnya sendiri di depan dinding. Dia menatap wajahnya semakin cepat dimamah usia. Janggutnya yang sejemput itu sudah banyak beruban dari hitam. Misainya juga kian memutih. Rambutnya juga sedang dijajah warna kilauan putih. Usianya sudah menjejak aksara 52 tahun. Dan evolusi penampilan dirinya telah merubah ikon wajahnya bukan lagi sebagai seorang bapa, tetapi telah menobatkan dirinya sebagai seorang datuk. Sudah ada ramai cucu.

Dia mengerti amat bahawa sesuatu perlakuan mesti bermula dengan niat. Niat itu adalah kontrak dirinya menerusi hatinya dengan Allah. Niat itu adalah komunikasi intrapersonal dalam dirinya. Jika melakukan sesuatu sonder niat, sudah pasti apa yang diimpikan sukar dimakbul oleh Allah, walau doanya berbakul-bakul ayat selepas setiap solat lima waktu atau solat hajat.

Maka dia hari ini bertekad dan berniat untuk tidak senyum. Tidak mahu senyum. Bersara dari berwajah senyum. Bukan berwajah mencuka. Mahu berwajah serius. Menampilkan semangat jantannya. Sonder senyum. Dalam agamanya selalu berpesan-pesan bahawa senyuman itu gambaran iman. Sebagai sedekah. Lalu dia mengingati pesanan dari Abu Dzar RA., Rasulullah SAW bersabda, yang maksudnya : "Engkau tersenyum di depan saudaramu adalah sedekah". (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang pernah dibacanya dari Kitabul Adab).

Senyum itu sedekah? Begitu mudah untuk mendapat pahala sedekah tanpa mengeluarkan wang ringgit atau peluh !

Tapi, benarkah senyum itu mudah? Dan dia merasai sudah letih untuk senyum. Dan mulai hari ini dia berniat, sonder senyum. Dia menatap dinding dan mula melakukan mindset untuk miskin senyum.

Tiba-tiba dia tercenung, diam dan mindanya mula membuka helaian ceritera silam yang disimpan dalam bilik-bilik nostalgia otaknya. Alat sensor mindanya mula melayari setiap bilik nostalgia itu dan…..dia merebah kepalanya di lantai simen dalam bilik suram itu dan terlelap… dengkurnya semakin meninggi, rendah dan tinggi.

Lembah Tembeling kembali sepi dari bunyi tembakan meriam dan pemuras. Pagi itu di Jeram Ampai, air Sungai Tembeling semakin surut dan cuaca panas amat. Kilatan ikan-ikan di dasar sungai menjadi indah, ceria dan aman.

Demi keamanan alur Sungai Tembeling, Tok Gajah telah mendapat mandat untuk mengawal alur sungai itu dari tercemar dan segala ikan di dalam alur dan unggas di tebing sepanjang alur sungai itu hidup aman. Lalu dia pun memerintahkan anak buahnya untuk mengamankan alur Sungai Tembeling itu. Setiap dua orang anak buahnya diperintah menyediakan rakit buluh yang diikat dengan empat batang buluh, lengkap dengan galah panjang dan pendayung dari batang nibung.

"Ini adalah tugas mulia kamu semua. Mengawal alur Sungai Tembeling adalah wujud semangat patriotik ketuanan dan kebangsawanan Orang Pahang sebagai
seorang pahlawan kepada Yang DiPertuan Paduka Wan Ahmad. Meskipun kita tidak boleh memilih atau ingkar, kita tetap bersumpah dengan cara kita. Laksanakanlah tugas kamu semua." Demikian perintah Tok Gajah kepada anak buahnya dalam kesempatan perbarisan pahlawan di suatu pagi.

Tentu saja seluruh anak buahnya menjawab dengan serentak. "Siaaaap!! Kami semua siap sedia, demi Yang DiPertuan Paduka."

Sulit untuk dibayangkan ada seorang pahlawan mengacungkan tangan membantah terhadap perintah atasannya. Itu akan kelihatan sangat lucu. Ada yang ketawa terbahak-bahak dan selepas Tok Gajah mengherdik dan menengking, mereka sekadar ketawa dalam hati masing-masing.

Terlihat lebih lucu lagi, bila dalam pelaksanaan tugasnya itu, kesiapan pahlawan itu hanya berhenti di mulut saja. Ketika tiba saat hari pengawalan alur Sungai Tembeling, apalagi di perlembahan Hulu Pahang yang sangat terpencil itu, siapa boleh mengawal mereka? Boleh sangat mungkin terjadi, rakit-rakit yang menyesakkan dari tebing seberang sini ke tebing seberang sana yang jumlahnya hampir 200 buah itu akan bergerak, separuh rakit akan mudik ke hulu menongkah arus dan separuh lagi akan menghilir alur Sungai Tembeling. Apapun yang terjadi, demi keamanan dan maruah Yang DiPertuan Paduka, hanya mereka yang mendapat ijazah pahlawan yang boleh mengendalikan rakit-rakit itu hingga sampai di tempat-tempat yang diperintahkan. Selama perjalanan itu, hanya dua pahlawan yang mengendalikan rakit tanpa ada giliran. Sebab, sekali lagi demi keamanan dan maruah Yang DiPertuan Paduka..

Dengan penuh rasa yakin amat, Tok Gajah melaporkan semua tugasnya kepada atasannya, Yang DiPertuan Paduka yang bersemayam di Jong Belabuh. Semuanya beres.

"Rakit-rakit khabarnya sudah sampai di tempat persembunyian Bahaman dan Mat Kelubi di Batu Balik, berhampiran dengan Kuala Tembeling dan sebahagian rakit-rakit yang mudik hingga ke Jong Belabuh telah tiba di tempat persembunyian Yang DiPertuan Paduka. Hamba dan Mat Kilau bersingkar serakit menongkah alur Sungai Tembeling. Kami telah melaksanakan tugas dengan sempurna, “ lapor Tok Gajah.

Dan Yang DiPertuan Paduka pun dengan bangga akan menjawab puas, "Terimakasih Tok Gajah. Tugas kamu bersama anak buah telah selesai. Marilah kita berkumpul dan menyambung semula latihan persilatan dan bermain senjata yang kita miliki.”

Tok Gajah pada hari ketujuh telah mendapat khabar yang pasukan diketuai Bahaman dan Mat Kelubi telah diserang di Batu Balik. Mereka dikejar oleh tentera British hingga ke Jeram Ampai. Ramai pahlawan gugur dan mati ditembak oleh tentera British keturunan Benggali. Rakit-rakit banyak yang ditawan oleh tentera British dan dibakar. Hanya tidak sampai 20 rakit sahaja berjaya menongkah arus alur Sungai Tembeling mudik sehingga ke kubu di Jong Berlabuh dengan selamat, berkat kesigapan para pahlawan yang bersingkar melarikan diri ke hulu.

Pada malam itu dengan bercahayakan bulan di atas hamparan pasir Yang DiPertuan Paduka bermesyuarat dengan Tok Gajah, Bahaman, Mat Kilau dan Mat Kelubi yang cedera di bahunya terkena peluru pamuras tentera British ketika mahu menyelamatkan Bahaman. Mereka mengatur untuk berangkat malam itu juga meredah malam mudik ke hulu. Mereka tidak boleh menunggu lebih lama lagi untuk bertahan dari serangan tentera British.

Dan di Jeram Ampai tentera-tentera British yang dipimpin oleh Hugh Clifford bersuka ria menyambut kemenangan mereka. Terjadi pesta meriah amat. Mereka sedang mabuk-mabuk bersukaria dilayani oleh wanita-wanita yang ditawan dari kawalan Pasukan Bahaman dan Mat Kilau..

Tok Gajah berdiri tegak gagah dan sempurna, memimpin perbarisan pahlawan pada pagi itu di kaki Gunung Mandi Angin. Di depan Yang DiPertuan Paduka Wan Ahmad, para pahlawan itu memberikan hormat dan meneriakkan mantera dan zikir kebal diri. Dan dengan rasa sayu amat gerombolan itu melangkah kaki menaiki rakit-rakit yang masih tinggal menongkah arus alur Tembeling melewati Jeram Perahu untuk meninggal bumi Pahang menuju ke Pasir Raja di Terengganu, sebelum tentera British pimpinan Hugh Clifford sampai ke tapak kubu persembunyian mereka.

Tiba-tiba dia terjaga dari tidurnya dan tergiang-giang di telinganya ada suara menegurnya yang masih berbaring di lantai bilik suram itu. Dia mendongak menghala arah dinding yang ada sedikit cahaya siang.

"Hai!..."

Gemersik suara lembut mengejutkan dia. Dia menoleh. Tiada siapa pun. Dia kehairanan. Dia melihat jelas di belakangnya hanya dinding putih tempat tubuhnya bersandar. Dia bingung. Dari mana suara tadi menerjah ke telinganya?”

“Assalamualaikum!..."

Suara itu terdengar kembali. Dia penasaran. Dia menatap dinding itu dalam-dalam. Tidak ada orang. Vakum. Pasti, walau hanya bayangan. Mungkinkah suara tadi terdengar dari dinding ini? Dia menatap semula dengan teliti. Hanya sekelompok semut yang merayap beriringan. Berduyun-duyun. Berdahuluan, kemudian, dalam barisan formasi strategik.

Dia ralit memerhatikan semut-semut itu. Semakin mendekat. Semakin dekat. Dia melihat ada seekor semut menjauh dari barisan keramaian. Memisahkan diri dari iringan panjang yang berakhir di sebuah lubang atas dinding tersebut. Dia tidak jadi senyum. Dia kaget. Benar-benar kaget! Dalam pandangannya, sang semut itu nampak jelas sekali, tidak sekecil semut-semut yang lain. Dia tidak juga mahu senyum. Dia hampir terkejut beruk yang menggantikan kehairanannya menjadi tanda tanya. Menjadi teka-teki.

"Assalamualaikum!..."

Ah, benarkah sang semut seekor itu yang mengucapkan salam terhadapnya? Walau agak ragu, dia memberanikan diri untuk menjawabnya.

"Wa'alaikum Salam!.." sahutnya dengan nada hairan.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!. Kini dia semakin percaya diri bahawa semua makhluk yang wujud atas muka bumi ini meyakini akan keagungan dan keesaan Allah. Bukankah salam juga mencerminkan pengakuan kita pada yang maha berkuasa? Dan sang semut itu mengucapkannya! Aneh.

Dalam ketakjuban itu pula, sesaat dia merasa seperti Nabi Sulaiman. Nabi sekaligus raja yang mendapat keistimewaan memahami bahasa alam semesta termasuk unggas dan haiwan. Dia tidak juga senyum. Walau dia tahu jika dia senyum pasti akan sama dengan senyuman Nabi Sulaiman sebagaimana tercatat dalam ceritera silam tatkala kaki baginda hampir memijak seekor semut kecil.

"Kenapa? Hairan ya!....Tak Percaya?" sang semut itu bertanya menguji.

Dia tidak segera menjawab. Bila dia mengatakan ‘ya’, dia takut sang semut itu akan mentertawakannya. Dan segera sang semut itu berkata, "Kamu tidak perlu hairan. Apa pun yang terjadi adalah dengan izin Allah, jika Allah mahu sesuatu itu jadi, maka jadilah, dan tetap sesuatu itu terjadi. Jangankan memahami bahasamu, memahami bahasa apa pun aku boleh, jika Allah berkehendak!".

Bila dia menjawab ‘tidak’, dia bimbang sang semut itu akan mencemuhnya dan berkata bahawa dia tidak ‘peka’ terhadap keanehan dalam historikal kehidupan di mayapada ini, dan menafikan hukum sunnatullah (mana mungkin semut boleh bercakap dengan manusia?). Sehingga ditakutkan dia akan memperlekehkan hal ehwal mukjizat, karamah, ataupun gejala metafisika lainnya yang mana Penguasanya adalah Allah. Akhirnya dia memilih diam. Berdiam. Dia tidak mahu senyum.

"Kenapa diam? Takut?, Sariawan! atau penasaran!, ya..?"

Dia ketawa bagai tercekik tulang ikan, sambil menoleh kanan dan kiri, takut-takut ada orang yang mendengar. Punya selera humor juga sang semut itu, bisik hatinya. Dia baru ingat bahawa sang semut seekor itu sejak dari tadi sendirian dan tidak menyertai rombongan semut-semut lainnya.

"Eh, kamu kenapa diam di situ? Tidak mengikuti rombongan kerja bakti seperti yang lain..?" dia bertanya kepada sang semut.

"Memangnya kenapa?" sang semut menukas pantas.

"Ya..seharusnya kamu ikut gotong-royong dengan mereka. Sama-sama merasakan kerja dan bekerja bersama. Bukan seenaknya duduk di situ!" dia pura-pura marah.

"Aku tidak mahu enaknya sendirian. Kita kan sudah ada tugasan masing-masing", kemudian sang semut itu menjelaskan dengan panjang lebar tentang tugas dan strata dalam kehidupan dunia semut. Ia menjelaskannya dengan tenang.

"Kalau begitu tidak adil?, ya!..."

Sang semut seekor itu tertawa. Ketawa sang semut menggodang gegendang telinganya. Bingit. Mendesing.

"Dalam hal ini aku tidak sependapat denganmu. Keadilan bukan berarti memberikan hak yang sama pada setiap kelompok atau kumpulan. Masing-masing sudah mempunyai tugasan dan tanggungjawabnya. Bukankah Allah telah mengakui adanya pluraliti? Kalau semuanya sama, tidak akan ada kehidupan di bumi Allah ini. Sonder perang. Sonder damai. Sonder senyum?"

Dia merasa terpojok. Terperangkap dalam dilema akal. Tapi dia menyedari ada kebenaran yang jitu dalam kata-kata sang semut itu. Maka dia tidak membantah, teringat kata-kata hikmah, ‘Ambillah hikmah dan kebenaran dari mana pun datangnya’. Dia masih mahu bertanya banyak lagi kepada sang semut itu, tiba-tiba seorang wanita berseragam biru laut itu yang biasa menemani hari-harinya datang menghampiri dia secara tergesa-gesa. Suara-suara Yang DiPertuan Paduka Wan Ahmad dan Tok Gajah kadang-kadang mengganggu kepalanya.

"Cepat masukkk!...Yang Berhormat Dato Sri!. Sudah senja. Tidak baik bercakap dengan dinding!. Tidak baik bercakap dengan dinding berseorangan waktu senja begini. Lain kali kalau mahu berborak hanya dengan Cik Bedah ajer ya..?" wanita yang bertugas sebagai ketua jururawat dan biasa dipanggil Cik Bedah itu memapah dia memasuki wad di sebuah hospital. Padahal dia masih kuat berjalan sendiri. Dia tetap dipapah dan tidak dibiarkan berjalan sendirian.

Sudah dua bulan dia menjadi penghuni di hospital itu. Tepatnya sejak psikiateris di sebuah hospital swasta berhampiran dengan rumahnya itu menyuruh Datin Sri membawa dia untuk dirawat. Sebelum dia meletakkan kepalanya yang mula terasa kebas dan berdenyut-dentut, dia sempat membaca tulisan pada bantal yang mengalas kepalanya sejak dua bulan lalu dan diterjemah dalam hatinya… ……….. ..*.*.&.%.$..#.$..??..!!.$..
… T.G: R.A.M.B.U.T.A.N…..zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz!...

8 Mac 2005,
Kuantan, Pahang

Wednesday, June 30, 2004

TOK GAJAH *) 

TOK GAJAH *)
Cerpen Oleh: Arisel Ba


Lembah Tembeling kembali sepi dari bunyi tembakan meriam dan pemuras. Pagi itu di Jeram Ampai, air Sungai Tembeling semakin surut dan cuaca panas amat. Kilatan ikan-ikan di dasar sungai menjadi indah, ceria dan aman.

Demi keamanan alur Sungai Tembeling, Tok Gajah telah mendapat mandat untuk mengawal alur sungai itu dari tercemar dan segala ikan di dalam alur dan unggas di tebing sepanjang alur sungai itu hidup aman. Lalu dia pun memerintahkan anak buahnya untuk mengamankan alur Sungai Tembeling itu. Setiap dua orang anak buahnya diperintah menyediakan rakit buluh yang diikat dengan empat batang buluh, lengkap dengan galah panjang dan pendayung dari batang nibung.

"Ini adalah tugas mulia kamu semua. Mengawal alur Sungai Tembeling adalah wujud semangat patriotik ketuanan dan kebangsawanan Orang Pahang sebagai
seorang pahlawan kepada Yang DiPertuan Paduka Wan Ahmad. Meskipun kita tidak boleh memilih atau ingkar, kita tetap bersumpah dengan cara kita. Laksanakanlah tugas kamu semua." Demikian perintah Tok Gajah kepada anak buahnya dalam kesempatan perbarisan pahlawan di suatu pagi.

Tentu saja seluruh anak buahnya menjawab dengan serentak. "Siaaaap!! Kami semua siap sedia, demi Yang DiPertuan Paduka."

Sulit untuk dibayangkan ada seorang pahlawan mengacungkan tangan membantah terhadap perintah atasannya. Itu akan kelihatan sangat lucu. Ada yang ketawa terbahak-bahak dan selepas Tok Gajah mengherdik dan menengking, mereka sekadar ketawa dalam hati masing-masing.

Terlihat lebih lucu lagi, bila dalam pelaksanaan tugasnya itu, kesiapan pahlawan itu hanya berhenti di mulut saja. Ketika tiba saat hari pengawalan alur Sungai Tembeling, apalagi di perlembahan Hulu Pahang yang sangat terpencil itu, siapa boleh mengawal mereka? Boleh sangat mungkin terjadi, rakit-rakit yang menyesakkan dari tebing seberang sini ke tebing seberang sana yang jumlahnya hampir 200 buah itu akan bergerak, separuh rakit akan mudik ke hulu menongkah arus dan separuh lagi akan menghilir alur Sungai Tembeling. Apapun yang terjadi, demi keamanan dan maruah Yang DiPertuan Paduka, hanya mereka yang mendapat ijazah pahlawan yang boleh mengendalikan rakit-rakit itu hingga sampai di tempat-tempat yang diperintahkan. Selama perjalanan itu, hanya dua pahlawan yang mengendalikan rakit tanpa ada giliran. Sebab, sekali lagi demi keamanan dan maruah Yang DiPertuan Paduka..

Dengan penuh rasa yakin amat, Tok Gajah melaporkan semua tugasnya kepada atasannya, Yang DiPertuan Paduka yang bersemayam di Jong Belabuh. Semuanya beres.

"Rakit-rakit khabarnya sudah sampai di tempat persembunyian Bahaman dan Mat Kelubi di Batu Balik, berhampiran dengan Kuala Tembeling dan sebahagian rakit-rakit yang mudik hingga ke Jong Belabuh telah tiba di tempat persembunyian Yang DiPertuan Paduka. Hamba dan Mat Kilau bersingkar serakit menongkah alur Sungai Tembeling. Kami telah melaksanakan tugas dengan sempurna, “ lapor Tok Gajah.

Dan Yang DiPertuan Paduka pun dengan bangga akan menjawab puas, "Terimakasih Tok Gajah. Tugas kamu bersama anak buah telah selesai. Marilah kita berkumpul dan menyambung semula latihan persilatan dan bermain senjata yang kita miliki.”

Tok Gajah pada hari ketujuh telah mendapat khabar yang pasukan diketuai Bahaman dan Mat Kelubi telah diserang di Batu Balik. Mereka dikejar oleh tentera British hingga ke Jeram Ampai. Ramai pahlawan gugur dan mati ditembak oleh tentera British keturunan Benggali. Rakit-rakit banyak yang ditawan oleh tentera British dan dibakar. Hanya tidak sampai 20 rakit sahaja berjaya menongkah arus alur Sungai Tembeling mudik sehingga ke kubu di Jong Berlabuh dengan selamat, berkat kesigapan para pahlawan yang bersingkar melarikan diri ke hulu.

Pada malam itu dengan bercahayakan bulan di atas hamparan pasir Yang DiPertuan Paduka bermesyuarat dengan Tok Gajah, Bahaman, Mat Kilau dan Mat Kelubi yang cedera di bahunya terkena peluru pamuras tentera British ketika mahu menyelamatkan Bahaman. Mereka mengatur untuk berangkat malam itu juga meredah malam mudik ke hulu. Mereka tidak boleh menunggu lebih lama lagi untuk bertahan dari serangan tentera British.

Dan di Jeram Ampai tentera-tentera British yang dipimpin oleh Hugh Clifford bersuka ria menyambut kemenangan mereka. Terjadi pesta meriah amat. Mereka sedang mabuk-mabuk bersukaria dilayani oleh wanita-wanita yang ditawan dari kawalan Pasukan Bahaman dan Mat Kilau..

Tok Gajah berdiri tegak gagah dan sempurna, memimpin perbarisan pahlawan pada pagi itu di kaki Gunung Mandi Angin. Di depan Yang DiPertuan Paduka Wan Ahmad, para pahlawan itu memberikan hormat dan meneriakkan mantera dan zikir kebal diri. Dan dengan rasa sayu amat gerombolan itu melangkah kaki menaiki rakit-rakit yang masih tinggal menongkah arus alur Tembeling melewati Jeram Perahu untuk meninggal bumi Pahang menuju ke Pasir Raja di Terengganu, sebelum tentera British pimpinan Hugh Clifford sampai ke tapak kubu persembunyian mereka.

15 Jun 2004
Lembah Tembeling

*) Cerita ini sekadar sebuah fiksi. Bila ada percanggahan atau persamaan dengan fakta sejarah, itu hanyalah kebetulan belaka.

This page is powered by Blogger. Isn't yours?